Rahmat, Muhamad ; " />
Art Original
(SKRIPSI) Pengaruh Guided Inquiry Learning Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Pembelajaran IPAS Kelas V SDS Sumur Bandung
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis dan literasi sains siswa Indonesia yang tercermin dari skor PISA yang terus menurun serta hasil observasi awal di SDS Sumur Bandung yang menunjukkan keaktifan siswa dalam bertanya dan berargumen hanya di bawah 30%. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh model Guided Inquiry Learning terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran IPAS Kelas V SDS Sumur Bandung. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain Quasi Experimental Nonequivalent Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa Kelas V SDS Sumur Bandung yang berjumlah 50 siswa, dengan sampel terdiri dari 25 siswa kelas 5A sebagai kelompok eksperimen dan 25 siswa kelas 5B sebagai kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel menggunakan "purposive sampling" (Sugiyono, 2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata post-test kelas eksperimen mencapai 84,28, jauh lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang hanya 72,64, dengan uji Independent Samples T-Test menghasilkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Pembahasan mengungkap bahwa sintaks model Guided Inquiry Learning yang melibatkan orientasi, perumusan masalah, pengumpulan data, analisis, penarikan kesimpulan, dan komunikasi efektif melatih seluruh indikator berpikir kritis Facione, P. A. (1990): (interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri), dengan rata-rata N-Gain kelas eksperimen sebesar 61,08% (kategori cukup efektif) dibandingkan kelas kontrol yang hanya 31,08% (kategori tidak efektif). Simpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan model Guided Inquiry Learning terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa Kelas V SDS Sumur Bandung pada pembelajaran IPAS. Saran yang diberikan adalah agar guru menerapkan model ini sebagai inovasi pembelajaran, sekolah memfasilitasi sarana pendukung, dan peneliti selanjutnya dapat mengujicobakan model ini pada materi atau jenjang kelas yang berbeda.
Tidak tersedia versi lain